Laman

banner banner hot

Rabu, 30 September 2015

Pesuruh Kantor Kelurahan


Memanfaatkan fasilitas yang ada di Kantor Kelurahan, Supardi (maaf kalau ada yang sama namanya), seorang kurir kantor kelurahan mulai berinternet ria pada jam-jam diluar dinas, sekali waktu pak lurah memergoki Supardi lagi online.

Pak Lurah berkata : ”Ngapai kau senyum senyum sendiri”
Supardi menjawab : ”Ngak apa-apa pak, cuma lihat foto lucu”
Pak lurah menghampiri dan sambil bertanya : ”Foto lucu yang macam mana”
Supardi menjawab : ”Ini lo pak” telunjuknya langsung menunjuk kain sarung yang menyelimuti seekor monyet yang lagi nangkring di sebatang ranting pohon..
Pak lurah nanya lagi sambil matanya melotot ”bukannya yang ini Par ?” tangan Pak lurah menunjuk foto dibawah monyet, seorang wanita setengah telanjang yang ingin mengambil kain sarungnya dari monyet yang nangkring tadi.
Dengan entengnya Supardi menjawab : ”Oh, kalo ini aku udah sering live dibelakang kantor kita pak ”.
Mendengar itu langsung saja pak Lurah ambil sapu ingin memukul Supardi, ngak pikir panjang Supardi lari tunggang langgang, baru disadarinya udah keceplosan ngomong...
Ngak berhasil memukul Supardi, pak Lurah sedikit terisak kembali kekantor sambil menggerutu : ”Kupikir yang betulnya dia kerja lembur, kusuruh istriku mengantar minuman, rupanya dimakannya juga, sial betul aku....udah jatuh ketimpa tangga,....udahlah teh ngutang, binikkupun dikerjainya....nasib..nasib ”
Sambil berkacak pinggang ia memanggil istrinya yang lagi diwarung sebelah ngutang minuman yang maksudnya untuk sang kurir Supardi.
Langsung Pak Lurah memarahi istrinya sambil berlinang air matanya : ” Teganya kau Minah (maaf kalau kebetulan sama namanya dengan anda), kusuruh kau mengantar minuman untuk si Pardi, kau kasi pula bukit kau diremas-remasnya”
Dimarahi bukannya takut, sang isteri yang bahenol tadi menjawab : ” Bukannya abang bilang, Minah, kau layani apa maunya si Pardi itu, kasi dia uang rokok, kutengok rajin kali dia, abang bilang begitu sama akukan ? ” sang istripun menambah jawabannya lagi ” Kubilang sama si Pardi,...Pardi apa maumu lagi, aku disuruh Bapak melayani kau, ..ya si Pardi minta bukitku, ya kukasi ajalah..”.
Masih berlinang air mata Pak Lurah terduduk lemas : ” sialnya aku ini, sudah jatuh ketimpa tangga, malah ditambah kesiram cet lagi ” terinspirasi waktu itu kantor kelurahan lagi dicat ulang.

1 komentar :

  1. makanya punya bini jangan disuruh melayani orang, bahenol pulak...abislah....

    BalasHapus