Herman, ganteng, pengangguran sering menggoda cewek-cewek cantik, sampai akhirnya bertemu dengan seorang janda kaya, Nurlela namanya, tak lama merekapun menikah dan menjadi suami-istri.
Namun Herman tak bisa merubah kelakuannya sehingga akhirnya mereka bertengkar :”Kalau begini bang kelakuanmu, aku minta cerai aja bang”.
Hermanpun ngak mau kalah gertak menjawab :” Oke, langsung aja talak tiga” lalu pergi meninggalkan Nurlela yang terheran-heran mendengar jawaban si Herman :” Betul ini bang ?” Tanya si Nurlela, karena maksudnya minta cerai tadi hanya menggertak saja, tapi siHerman langsung bilang talak tiga.”Kau pikir aku main-main …kecil kalilah kau, kuharamkan aku memijakkan kaki dirumahmu ini “
Nurlelapun menangis dan masuk kekamar, dan si Hermanpun melengos keluar rumah sambil mengenderai motornya yang sebenarnya dibelikan oleh istrinya, dengan gaya Valentino Rossi, yang baru saja menyelesaikan lap terakhirnya, menginggalkan rumah mereka.
Sehari dua hari berlalu, Nurlela mulai gelisah, takut hidup sendirian, iapun coba-coba mencari kesana kemari seseorang yang bisa menemaninya dirumah.
Tiba-tiba dilihatnya, si Halim, baru pulang kerja, membantu orang membajak sawah. Halim ini, seorang berbadan besar,tinggi,kekar berotot yang hidup sendiri, karena telah mati ditinggal orangtuanya. Sayang Halim ini agak dungu, sehingga jarang orang –orang mau berteman dengannya.
Namun lain dipikiran Nurlela :” Kalau mau si Halim biar kujadikan pesuruhku dia, kugaji dia tinggi sedikit, pasti dia mau” pikirnya.
“Bang Halim, kesinilah “ dipanggil seorang perempuan yang lumayan parasnya membuat Halim terkejut senang :” Ada apa dek Lela ?.Halim datang menghampiri
“ Oooo mantang,…hmmmmh” Halim menghirup udara dalam-dalam menikmati aroma harum siNurlela :” Kena kau bang Halim” pikir si Lela :” Begini Bang Halim, aku minta Bang Halim mau jadi pesuruhku, ku gaji bang Halim lebih tinggilah dari kerjaan abang sekarang, makan gra…… “ Belum selesai si Lela ngomong tanpa pikir panjang Halim menjawab “Ya,ya mau” Si Lela tersenyum :” Dungu kayak manapun kalau sudah menyangkut wanita,….sama aja” pikir si Lela. Maka mulai hari itu Si Halim jadilah pembantu Lela, kemanapun di suruh si Lela, Halim pasti mau, termasuk menjaga rumah Lela.
Tiga bulan berlalu, hari itu pagi hari, Lela sedang bersantai menikmati mentari pagi di depan rumah sambil sesekali melihat si Halim sedang memangkas pagar, datanglah mantan suaminya si Herman, membuat si Lela sedikit terkejut.
“Lela, maafkan abang Lela telah membuat kesalahan fatal, sehingga kita bercerai” Lela sebenarnya senang karena macam manapun ia masih mencintai mantan suaminya ini :”Tapi bang, kita sudah talak tiga, ngak bisa rujuk lagi, kecuali aku kawin dulu sama orang lain, baru bisa bang “. Barulah si Herman sadar, gara-gara salah ngomong dulu, akibatnya fatal begini, tiba-tiba ia punya akal dan diutarakan niatnya itu kepada Lela.
“Macamana Lela, kalau nikah dulu kau sama si Halim, setelah itu kau ceraikan dia”
Karena memang Lela sudah suka sama si Halim, biar dungu, tapi rajin, maka Lela menyetujuinya, dan senanglah si Herman.dalam hatinya :” Gampang ngatur si Halim, begitu selesai nikah, langsung kusuruh ceraikan, gampangkan?”.iapun tersenyum dalam hati.
Malam itu didatanginyalah si Halim :”Lim, gini, akukan cerai sama si Lela udah talak tiga, jadi kalau kami mau rujuk, Lela harus kawin dulu sama orang lain, setelah cerai baru bisa rujuk sama aku lagi, macam mana Lim, mau kau nikah sama si Lela, tapi setelah nikah , kau ceraikan lagi si Lela..nanti kukasi kau kambing, macamamana Lim?”. Dasar Halim, langsung setuju :”Mau…Mau”. Senanglah hati si Herman.
Maka diaturnyalah segala keperluan, sampai pak RT dan masyarakat di kampung itu terheran-heran, si Herman mengurus segala keperluan pernikahan si Lela dengan Halim.
Terjadilah pernikahan dengan mengundang masyarakat disitu, sehingga suasana jadi ramai.
Pada malam hari Herman datang menjumpai Halim :”Jangan lupa Lim, besok pagi kau sudah tak jadi suami si Lela lagi”. Halim hanya mengangguk lalu masuk kamar.
Tinggallah si Herman di ruang tamu,berfikir :”Ngak mungkin, si Halim menyentuh si Lela, dungu gitu kok dan Lelapun takkan mau sama si Halim” pikirnya, dan iapun terlelap.
Sementara didalam kamar, Lela yang sudah lama menjanda, melihat si Halim yang berbadan kekar dan berotot tidur gemetar disebelahnya, mulai timbul birahinya, disentuhnya si Halim yang sudah berkeringat, pucat terkadang,memerah tersering…maklum baru kali ini ia tidur dengan wanita : “lumayan pulak itu” pikirnya.
Lupa segala janji dengan Herman, malam itu mereka lampiaskan segala rindu, segala impian, segala….yahhhh ..segalanya. dan Lela mulai membandingkan Herman dengan Halim, dan tak bisa dipungkiri lagi Halim berada diatas Herman.
Setelah mendarat dari mengarungi lautan cinta mereka, Lela pun dengan tegas berkata :”Bang Halim, aku ngak mau pisah sama abang, jadi abang bilang sama si Herman ya?”
Halim menjawab :”Ya..ya….” senangnya si Halim :”Mulai besok, bukan kerbau saja yang kumandikan, tapi kau Lela, bukan halaman saja yang kubersihkan, tapi kau Lela, bukan rumah saja yang kujaga, tapi kau Lela”
Sambil tertawa cekikikan mereka kembali berenang mengarungi lautan asmara sampai tertidur lelah hingga siang hari.
Diluar kamar Herman sudah gelisah :” Kok sampe siang begini, ngak bangun-bangun”
Tapi ngak berapa lama sepasang kekasih Nurlela dan Halim keluar, sudah rapi dan berjalan sama menuju beranda depan, seolah tak tau Herman berdiri, menuntut janji mereka.
Tiba-tiba Halim dengan gaya seorang juragan dengan entengnya menjawab :”Man, aku ngak maulah, kau ambil ajalah kambing yang kau kasi itu”. Bukan main terkejutnya Herman, ngomong ngak bisa, marah juga ngak bisa,lalu ia melirik Nurlela, yang dilirik hanya menganggukkan kepala…
Hancurlah sudah harapan Herman ingin bersatu kembali dengan Lela, dan yang paling parah lagi, hutangnya sudah melilit pinggang, karena selama pergi dari rumah dahulu ia hidup senang-senang tanpa kerja, bahkan motor yang diberikan Lela dahulupun sudah terjual,…habisssslah….Herman yang ganteng hancur dihadapan Halim yang dianggapnya dungu…belum tau dia…Halim juga manusia….
Namun Herman tak bisa merubah kelakuannya sehingga akhirnya mereka bertengkar :”Kalau begini bang kelakuanmu, aku minta cerai aja bang”.
Hermanpun ngak mau kalah gertak menjawab :” Oke, langsung aja talak tiga” lalu pergi meninggalkan Nurlela yang terheran-heran mendengar jawaban si Herman :” Betul ini bang ?” Tanya si Nurlela, karena maksudnya minta cerai tadi hanya menggertak saja, tapi siHerman langsung bilang talak tiga.”Kau pikir aku main-main …kecil kalilah kau, kuharamkan aku memijakkan kaki dirumahmu ini “
Nurlelapun menangis dan masuk kekamar, dan si Hermanpun melengos keluar rumah sambil mengenderai motornya yang sebenarnya dibelikan oleh istrinya, dengan gaya Valentino Rossi, yang baru saja menyelesaikan lap terakhirnya, menginggalkan rumah mereka.
Sehari dua hari berlalu, Nurlela mulai gelisah, takut hidup sendirian, iapun coba-coba mencari kesana kemari seseorang yang bisa menemaninya dirumah.
Tiba-tiba dilihatnya, si Halim, baru pulang kerja, membantu orang membajak sawah. Halim ini, seorang berbadan besar,tinggi,kekar berotot yang hidup sendiri, karena telah mati ditinggal orangtuanya. Sayang Halim ini agak dungu, sehingga jarang orang –orang mau berteman dengannya.
Namun lain dipikiran Nurlela :” Kalau mau si Halim biar kujadikan pesuruhku dia, kugaji dia tinggi sedikit, pasti dia mau” pikirnya.
“Bang Halim, kesinilah “ dipanggil seorang perempuan yang lumayan parasnya membuat Halim terkejut senang :” Ada apa dek Lela ?.Halim datang menghampiri
“ Oooo mantang,…hmmmmh” Halim menghirup udara dalam-dalam menikmati aroma harum siNurlela :” Kena kau bang Halim” pikir si Lela :” Begini Bang Halim, aku minta Bang Halim mau jadi pesuruhku, ku gaji bang Halim lebih tinggilah dari kerjaan abang sekarang, makan gra…… “ Belum selesai si Lela ngomong tanpa pikir panjang Halim menjawab “Ya,ya mau” Si Lela tersenyum :” Dungu kayak manapun kalau sudah menyangkut wanita,….sama aja” pikir si Lela. Maka mulai hari itu Si Halim jadilah pembantu Lela, kemanapun di suruh si Lela, Halim pasti mau, termasuk menjaga rumah Lela.
Tiga bulan berlalu, hari itu pagi hari, Lela sedang bersantai menikmati mentari pagi di depan rumah sambil sesekali melihat si Halim sedang memangkas pagar, datanglah mantan suaminya si Herman, membuat si Lela sedikit terkejut.
“Lela, maafkan abang Lela telah membuat kesalahan fatal, sehingga kita bercerai” Lela sebenarnya senang karena macam manapun ia masih mencintai mantan suaminya ini :”Tapi bang, kita sudah talak tiga, ngak bisa rujuk lagi, kecuali aku kawin dulu sama orang lain, baru bisa bang “. Barulah si Herman sadar, gara-gara salah ngomong dulu, akibatnya fatal begini, tiba-tiba ia punya akal dan diutarakan niatnya itu kepada Lela.
“Macamana Lela, kalau nikah dulu kau sama si Halim, setelah itu kau ceraikan dia”
Karena memang Lela sudah suka sama si Halim, biar dungu, tapi rajin, maka Lela menyetujuinya, dan senanglah si Herman.dalam hatinya :” Gampang ngatur si Halim, begitu selesai nikah, langsung kusuruh ceraikan, gampangkan?”.iapun tersenyum dalam hati.
Malam itu didatanginyalah si Halim :”Lim, gini, akukan cerai sama si Lela udah talak tiga, jadi kalau kami mau rujuk, Lela harus kawin dulu sama orang lain, setelah cerai baru bisa rujuk sama aku lagi, macam mana Lim, mau kau nikah sama si Lela, tapi setelah nikah , kau ceraikan lagi si Lela..nanti kukasi kau kambing, macamamana Lim?”. Dasar Halim, langsung setuju :”Mau…Mau”. Senanglah hati si Herman.
Maka diaturnyalah segala keperluan, sampai pak RT dan masyarakat di kampung itu terheran-heran, si Herman mengurus segala keperluan pernikahan si Lela dengan Halim.
Terjadilah pernikahan dengan mengundang masyarakat disitu, sehingga suasana jadi ramai.
Pada malam hari Herman datang menjumpai Halim :”Jangan lupa Lim, besok pagi kau sudah tak jadi suami si Lela lagi”. Halim hanya mengangguk lalu masuk kamar.
Tinggallah si Herman di ruang tamu,berfikir :”Ngak mungkin, si Halim menyentuh si Lela, dungu gitu kok dan Lelapun takkan mau sama si Halim” pikirnya, dan iapun terlelap.
Sementara didalam kamar, Lela yang sudah lama menjanda, melihat si Halim yang berbadan kekar dan berotot tidur gemetar disebelahnya, mulai timbul birahinya, disentuhnya si Halim yang sudah berkeringat, pucat terkadang,memerah tersering…maklum baru kali ini ia tidur dengan wanita : “lumayan pulak itu” pikirnya.
Lupa segala janji dengan Herman, malam itu mereka lampiaskan segala rindu, segala impian, segala….yahhhh ..segalanya. dan Lela mulai membandingkan Herman dengan Halim, dan tak bisa dipungkiri lagi Halim berada diatas Herman.
Setelah mendarat dari mengarungi lautan cinta mereka, Lela pun dengan tegas berkata :”Bang Halim, aku ngak mau pisah sama abang, jadi abang bilang sama si Herman ya?”
Halim menjawab :”Ya..ya….” senangnya si Halim :”Mulai besok, bukan kerbau saja yang kumandikan, tapi kau Lela, bukan halaman saja yang kubersihkan, tapi kau Lela, bukan rumah saja yang kujaga, tapi kau Lela”
Sambil tertawa cekikikan mereka kembali berenang mengarungi lautan asmara sampai tertidur lelah hingga siang hari.
Diluar kamar Herman sudah gelisah :” Kok sampe siang begini, ngak bangun-bangun”
Tapi ngak berapa lama sepasang kekasih Nurlela dan Halim keluar, sudah rapi dan berjalan sama menuju beranda depan, seolah tak tau Herman berdiri, menuntut janji mereka.
Tiba-tiba Halim dengan gaya seorang juragan dengan entengnya menjawab :”Man, aku ngak maulah, kau ambil ajalah kambing yang kau kasi itu”. Bukan main terkejutnya Herman, ngomong ngak bisa, marah juga ngak bisa,lalu ia melirik Nurlela, yang dilirik hanya menganggukkan kepala…
Hancurlah sudah harapan Herman ingin bersatu kembali dengan Lela, dan yang paling parah lagi, hutangnya sudah melilit pinggang, karena selama pergi dari rumah dahulu ia hidup senang-senang tanpa kerja, bahkan motor yang diberikan Lela dahulupun sudah terjual,…habisssslah….Herman yang ganteng hancur dihadapan Halim yang dianggapnya dungu…belum tau dia…Halim juga manusia….
hik hik hik..tau rasa....ganteng bukan ukuran...lewat lah
BalasHapus