Ada cerita, dulu lagi masih kanak kanak, aku punya teman, namanya Tumin asal kata Tukimin, berhubung sering minta-minta kepada teman-teman maka suku kata KI dibuang, tinggal TUMIN yang maksudnya TUkang MINta-minta.
Apabila ada pohon buah-buahan yang lagi berbuah, dia langsung minta kepada yang punya rumah, kalau yang punya rumah tidak ada, maka dia tulis surat sepotong yang isinya meminta buah dimaksud, seperti yang pernah kubaca :” Wak Kelol, aku minta Jambu nya ya ?....terima kasih ”. Hebat ngak, makanya kalau lagi jalan sama dia, aku ’ngeri-ngeri sedap’, hasilnya memang aku ikut makan, mintanya ini aku tidak tahan alias malu.
Selain tingkah diatas si Tumin ini ada ’bocornya’ kalau orang kampungku bilang, tapi tidak bocor-bocor kalilah, namun ditambah ’bandel’ wah gila juga ini orang.
Ada satu sifat yang disenangi oleh aku dan teman-teman, ia suka menyenangkan hati orang, meski jalan yang ditempuhnya ’nyimpang’ seperti satu malam, kebetulan orang tua salah satu temanku pulang kampung, jadi aku dan teman-teman lain termasuk si Tumin ini tidur malam rame-rame di rumah itu.
Jam dua dini hari, perut lagi lapar-laparnya, setelah menghilang selama dua jam tiba-tiba Tumin muncul membawa yang tak terduga, ’ayam bakar :” Selamat malam sahabatku semua, silakan makan sepuasnya, karena aku tau kalian lapaaaar sekali...he..he...he” Tak pikir panjang kami menyerbu Tumin dan memeluknya seolah pahlawan :”Terima kasih Min, kau memang sahabat kami yang terbaik”. Mendengar pujian itu Tukimin alias Tumin makin bersemangat :”Jangan takut kehabisan sahabat dan saudara-saudaraku, masih banyak”. Iapun pergi keluar sebentar dan membawa ’satu baskom’ ayam bakar.
Terkejut, terpana melihat pemandangan itu dan tanpa pikir panjang rame-rame kami ’libas’ itu ayam bakar. Tak kami lihat Tukimin tersenyum-senyum senang melihat sahabat-sahabatnya tak lapar lagi. Satu jam selesailah sudah ’pembantaian ayam bakar’ dan menguappun mulai ikut aktif yang akhirnya zzzzzzzzzz.
Pagi hampir siang kami sudah bangun sambil menghirup ’teh manis’ ditambah ’lontong’ yang disediakan yang empunya rumah, karena hari Minggu kami tidak sibuk untuk kesekolah.
Tiba-tiba datang Nyonya A Lien tetanggaku, dengan senyum :”Halo, selamat siang semua..” Serentak kami menjawab :”Siang juga nyonya...ada apa ?” . Dengan tersenyum sang nyonya menjawab :”Mau ambil uangnya la,..tapi tadi malam Tumin ambil ayamku lima ekor, katanya pake tulis surat, yang bayar kalian,..murah kok, Cuma tujuh puluh lima ribu aja..?”. Waduh ’kurang asem’ nih Tumin :”Kalo boleh tengok suratnya Nya?” Aku meminta, dan kubaca :”Nyonya, kami lapar sekali, saya ambil dulu ayamnya ya ?, besok kawan-kawanku yang bayar...terima kasih” serentak kami ngomong :”Ooo,..sompreeet..sompret”. Sambil mata kami mencari dimana Tumin berada dan aku berfikir :”Dasar bocor....sudahlah” akupun kebetulan ada duit :”Ini Nyonya, terima kasih ya udah ngasi utang dulu”. Dengan gembira Nyoya A Lien menerima :”Ooo..ngak apa-apa yang penting sama-sama senang....kamsia”. Nyoa A Lien pun beranjak pergi, sementara kami mencari Tumin, ternyata ia tidur :”Kecapean kali”.Pikirku, tanpa pikir panjang rame-rame kami serbu Tumin dan menimpanya, sehingga ia menjerit-jerit minta tolong dan kami tertawa-tawa...itu gaya persahabatan kami.
Siang panas terik kami pergi kekota, kota kecil tercinta, Perbaungan. Berjalan kaki (maklum, dulu belum punya motor), membuat kami cepat haus, dan berhentilah kami di ’Tukang Es Cendol”. Asyik kelontang-kelinting suara laga sendok dan gelas, tiba-tiba Tumin mengeluh :”Aduhh,...aku ’kebelet kencing’ dimana ya ?” Kami terdiam, dimana ditengah kota ini buang air kecil. Tapi memang dasar TuMin disamping Tukang Minta-minta juga rada ’gemblong’, ia pun meminjam handuk Tukang Es Cendol. Kami belum mengerti apa maksudnya, namun Tumin mulai beraksi dan kamipun menjerit ”Ehhh..gila kau Min” Tumin tak perduli, apa yang dilakukannya ini dia : Ia tutup matanya pakai handuk Tukang Es Cendol tadi, lalu ia keluarkan ’senjata’nya maka..... cuuurrrrrrrrr......cuurrr....currr. cetttt, habis. Ia tarik resluiting celananya kembali dan ia buka handuk yang menutup matanya dan ia berkata :”Wahh..lega.. ngak ada yang nampakkan....orang udah kututup mataku kok, ngak ada orang kutengok” Massa yang melihat geleng-geleng kepala sementara kami teriam membisu tak bisa berkata apa-apa.
Sekian..........sampai jumpa dikisah lucu yang lain
Apabila ada pohon buah-buahan yang lagi berbuah, dia langsung minta kepada yang punya rumah, kalau yang punya rumah tidak ada, maka dia tulis surat sepotong yang isinya meminta buah dimaksud, seperti yang pernah kubaca :” Wak Kelol, aku minta Jambu nya ya ?....terima kasih ”. Hebat ngak, makanya kalau lagi jalan sama dia, aku ’ngeri-ngeri sedap’, hasilnya memang aku ikut makan, mintanya ini aku tidak tahan alias malu.
Selain tingkah diatas si Tumin ini ada ’bocornya’ kalau orang kampungku bilang, tapi tidak bocor-bocor kalilah, namun ditambah ’bandel’ wah gila juga ini orang.
Ada satu sifat yang disenangi oleh aku dan teman-teman, ia suka menyenangkan hati orang, meski jalan yang ditempuhnya ’nyimpang’ seperti satu malam, kebetulan orang tua salah satu temanku pulang kampung, jadi aku dan teman-teman lain termasuk si Tumin ini tidur malam rame-rame di rumah itu.
Jam dua dini hari, perut lagi lapar-laparnya, setelah menghilang selama dua jam tiba-tiba Tumin muncul membawa yang tak terduga, ’ayam bakar :” Selamat malam sahabatku semua, silakan makan sepuasnya, karena aku tau kalian lapaaaar sekali...he..he...he” Tak pikir panjang kami menyerbu Tumin dan memeluknya seolah pahlawan :”Terima kasih Min, kau memang sahabat kami yang terbaik”. Mendengar pujian itu Tukimin alias Tumin makin bersemangat :”Jangan takut kehabisan sahabat dan saudara-saudaraku, masih banyak”. Iapun pergi keluar sebentar dan membawa ’satu baskom’ ayam bakar.
Terkejut, terpana melihat pemandangan itu dan tanpa pikir panjang rame-rame kami ’libas’ itu ayam bakar. Tak kami lihat Tukimin tersenyum-senyum senang melihat sahabat-sahabatnya tak lapar lagi. Satu jam selesailah sudah ’pembantaian ayam bakar’ dan menguappun mulai ikut aktif yang akhirnya zzzzzzzzzz.
Pagi hampir siang kami sudah bangun sambil menghirup ’teh manis’ ditambah ’lontong’ yang disediakan yang empunya rumah, karena hari Minggu kami tidak sibuk untuk kesekolah.
Tiba-tiba datang Nyonya A Lien tetanggaku, dengan senyum :”Halo, selamat siang semua..” Serentak kami menjawab :”Siang juga nyonya...ada apa ?” . Dengan tersenyum sang nyonya menjawab :”Mau ambil uangnya la,..tapi tadi malam Tumin ambil ayamku lima ekor, katanya pake tulis surat, yang bayar kalian,..murah kok, Cuma tujuh puluh lima ribu aja..?”. Waduh ’kurang asem’ nih Tumin :”Kalo boleh tengok suratnya Nya?” Aku meminta, dan kubaca :”Nyonya, kami lapar sekali, saya ambil dulu ayamnya ya ?, besok kawan-kawanku yang bayar...terima kasih” serentak kami ngomong :”Ooo,..sompreeet..sompret”. Sambil mata kami mencari dimana Tumin berada dan aku berfikir :”Dasar bocor....sudahlah” akupun kebetulan ada duit :”Ini Nyonya, terima kasih ya udah ngasi utang dulu”. Dengan gembira Nyoya A Lien menerima :”Ooo..ngak apa-apa yang penting sama-sama senang....kamsia”. Nyoa A Lien pun beranjak pergi, sementara kami mencari Tumin, ternyata ia tidur :”Kecapean kali”.Pikirku, tanpa pikir panjang rame-rame kami serbu Tumin dan menimpanya, sehingga ia menjerit-jerit minta tolong dan kami tertawa-tawa...itu gaya persahabatan kami.
Siang panas terik kami pergi kekota, kota kecil tercinta, Perbaungan. Berjalan kaki (maklum, dulu belum punya motor), membuat kami cepat haus, dan berhentilah kami di ’Tukang Es Cendol”. Asyik kelontang-kelinting suara laga sendok dan gelas, tiba-tiba Tumin mengeluh :”Aduhh,...aku ’kebelet kencing’ dimana ya ?” Kami terdiam, dimana ditengah kota ini buang air kecil. Tapi memang dasar TuMin disamping Tukang Minta-minta juga rada ’gemblong’, ia pun meminjam handuk Tukang Es Cendol. Kami belum mengerti apa maksudnya, namun Tumin mulai beraksi dan kamipun menjerit ”Ehhh..gila kau Min” Tumin tak perduli, apa yang dilakukannya ini dia : Ia tutup matanya pakai handuk Tukang Es Cendol tadi, lalu ia keluarkan ’senjata’nya maka..... cuuurrrrrrrrr......cuurrr....currr. cetttt, habis. Ia tarik resluiting celananya kembali dan ia buka handuk yang menutup matanya dan ia berkata :”Wahh..lega.. ngak ada yang nampakkan....orang udah kututup mataku kok, ngak ada orang kutengok” Massa yang melihat geleng-geleng kepala sementara kami teriam membisu tak bisa berkata apa-apa.
Sekian..........sampai jumpa dikisah lucu yang lain
Sekarang kawanku ini, sudah beranak pinak
BalasHapuspunya rumah, kebun sawit, wah..pokoknya
hidup senang