Ada anak namanya, Yudi. Nakalnya minta ampun, dan orang kampung tau nakalnya itu, karena anak tunggal, dan suka sekali mengganggu ketenangan orang tuanya maupun masyarakat disitu.
Yudi ini juga ada kurang-kurangnya, kadang tidak tau apa yang diucapkannya, omong bagus apa kotor...meluncur saja dari mulutnya.
Satu hari aku dan teman-teman sepakat mencari akal bagaimana menghentikan kenakalan si Yudi ini.
”Begini” salah satu temanku yang jago elektronik berkata :”aku ada akal, tapi bantu aku ya?”. Kami mengangguk tanda setuju dan kami pun bekerja sesuai tugas masing-masing.
Siang Minggu, libur sekolah, kami duduk-duduk dibawah pohon mangga. Tiba-tiba muncul si Yudi, tanpa kompromi ia ingin melempar mangga, namun tiba-tiba menjerit :”Adauuuu”. Yudi tak jadi melempar namun dicobanya lagi sambil memaki, dan ia menjerit :”Aduuh..duh..duh” Kami diam saja, dan terpsah dari kami, temanku Joko, si jago elektronik itupun diam juga namun ia memegang sesuatu sambil sesekali melirik Yudi dan Yudi melirik kami satu persatu dan melihat kekami satu persatu, mungkin ia curiga kepada kami, tapi karena kami cuma melihat saja iapun diam lalu bangkit dan seenaknya ia mengeluarkan ’penangkal petirnya’ ingin kencing. Joko melihat itu, iapun jadi jengkel dan marah, tak sengaja ia menggengam erat-erat sesuatu yang dipegangnya itu dan Yudi menjerit :”Aduh...auh...auh...toloooong..maak...maak..aduuh...pretttttttt.. prettt...” Yudi menggelepar, Joko tersadar iapun melepas genggamannya itu, dan Yudi lemas tergeletak namun masih sadar. Sementara itu orang-orang disekitar situ berdatangan dan melihat Yudi yang pucat pasi, ’penangkal petir’nya 'bergelantungan' membuat yang wanita menutup mata, meski ada yang melihat dari selah-selah jari (somprett).
Setelah suasana tenang kembali dan Yudi tak jadi kencing karena air kencingnya sudah keluar ’otomatis’, akupun mulai menjalankan tugasku.
Kudekati ’terdakwa’ : ”Ada apa Yud?” sambil mataku melirik Joko, dan Yudi sesekali senggukan :”Ngak tau bang, tadi mau ngelempar mangga, kok tanganku terasa kesetrom listrik, lalu aku mau maki dadakupun seperti kena setrom, aku mau kencing yang paling gawat bang, seluruh badanku kesetrom, kenapa ya bang?” akupun bergaya seperti seoarang ustadz dimadrasah mulai angkat bicara :”Yud, menurut abang...kau itu diberi peringatan oleh Yang Maha Kuasa, supaya jadi anak yang baik, kau tau ngak Yang Maha Kuasa itu masih sayang sama kau, kalau ngak, ngak cuma ’kejet-kejet’ gitu kau tadi, tapi langsung hangus, ngerti kau?”. Yudi mulai ketakutan, sementara Joko tersenyum dikulum mendengar ’ceramah’ku itu. ”Kau pasti sering ngelawan orang tuamu ya” Yudi mengganguk ”Ia bang” Aku menarif nafas :”Kencing sembarangan aja, kau sudah macam tadi, apa lagi melawan orang tua, badanmu hangus, lidahmu menjulur keluar, matamu nyembul mau pecah, mau kau?”.Suntikan ’jarum’ ku sudah masuk, Yudi mulai menangis :”Maaak...mamaaak..ampun..”.Iapun berlari menemui orang tuanya, minta ampun kali.
Joko mendekatiku, sementara orang-orang tersenyum puas dengan ’lakonan’ku tadi, meski mereka masih bertanya-tanya ”Kok iso yo, nyetrom”.
Seminggu kemudian, tidak seperti hari ini, Yudi sudah baik, tidak nakal lagi dan orang tuanya sangat senang dan berterima kasih sekali kepada kami.
”Hebat juga khotbahmu seminggu lalu Bang (namaku Gelombang)” Tapi lebih hebat remotemu itu, berapa volt kau buat, sampe kejang-kejang gitu”. Joko tersenyum :” Ah, secukupnya aja, tapi yang lebih hebat si Anto, bisa meyakinkan orang tuanya, untuk mengerjai anaknya, dan ngak kalah hebat mamaknya, menjahitkan alat itu kebanyakan, maksudku untuk tiga baju, eh..dibuat jadi satu, untung satu baju cukup membuat si Yudi Jera, kalo ngak, yang terpaksa buat lagi lah ”.
Aku penasaran : ”Macammana cara kau membuatnya Jok” Joko terdiam sebentar :” Ah itu sebenarnya rahasia, karena membuat itu hanya dicerita ini saja,...he...he...he...”.
Sekian dulu....sampai jumpa bro and sis
Yudi ini juga ada kurang-kurangnya, kadang tidak tau apa yang diucapkannya, omong bagus apa kotor...meluncur saja dari mulutnya.
Satu hari aku dan teman-teman sepakat mencari akal bagaimana menghentikan kenakalan si Yudi ini.
”Begini” salah satu temanku yang jago elektronik berkata :”aku ada akal, tapi bantu aku ya?”. Kami mengangguk tanda setuju dan kami pun bekerja sesuai tugas masing-masing.
Siang Minggu, libur sekolah, kami duduk-duduk dibawah pohon mangga. Tiba-tiba muncul si Yudi, tanpa kompromi ia ingin melempar mangga, namun tiba-tiba menjerit :”Adauuuu”. Yudi tak jadi melempar namun dicobanya lagi sambil memaki, dan ia menjerit :”Aduuh..duh..duh” Kami diam saja, dan terpsah dari kami, temanku Joko, si jago elektronik itupun diam juga namun ia memegang sesuatu sambil sesekali melirik Yudi dan Yudi melirik kami satu persatu dan melihat kekami satu persatu, mungkin ia curiga kepada kami, tapi karena kami cuma melihat saja iapun diam lalu bangkit dan seenaknya ia mengeluarkan ’penangkal petirnya’ ingin kencing. Joko melihat itu, iapun jadi jengkel dan marah, tak sengaja ia menggengam erat-erat sesuatu yang dipegangnya itu dan Yudi menjerit :”Aduh...auh...auh...toloooong..maak...maak..aduuh...pretttttttt.. prettt...” Yudi menggelepar, Joko tersadar iapun melepas genggamannya itu, dan Yudi lemas tergeletak namun masih sadar. Sementara itu orang-orang disekitar situ berdatangan dan melihat Yudi yang pucat pasi, ’penangkal petir’nya 'bergelantungan' membuat yang wanita menutup mata, meski ada yang melihat dari selah-selah jari (somprett).
Setelah suasana tenang kembali dan Yudi tak jadi kencing karena air kencingnya sudah keluar ’otomatis’, akupun mulai menjalankan tugasku.
Kudekati ’terdakwa’ : ”Ada apa Yud?” sambil mataku melirik Joko, dan Yudi sesekali senggukan :”Ngak tau bang, tadi mau ngelempar mangga, kok tanganku terasa kesetrom listrik, lalu aku mau maki dadakupun seperti kena setrom, aku mau kencing yang paling gawat bang, seluruh badanku kesetrom, kenapa ya bang?” akupun bergaya seperti seoarang ustadz dimadrasah mulai angkat bicara :”Yud, menurut abang...kau itu diberi peringatan oleh Yang Maha Kuasa, supaya jadi anak yang baik, kau tau ngak Yang Maha Kuasa itu masih sayang sama kau, kalau ngak, ngak cuma ’kejet-kejet’ gitu kau tadi, tapi langsung hangus, ngerti kau?”. Yudi mulai ketakutan, sementara Joko tersenyum dikulum mendengar ’ceramah’ku itu. ”Kau pasti sering ngelawan orang tuamu ya” Yudi mengganguk ”Ia bang” Aku menarif nafas :”Kencing sembarangan aja, kau sudah macam tadi, apa lagi melawan orang tua, badanmu hangus, lidahmu menjulur keluar, matamu nyembul mau pecah, mau kau?”.Suntikan ’jarum’ ku sudah masuk, Yudi mulai menangis :”Maaak...mamaaak..ampun..”.Iapun berlari menemui orang tuanya, minta ampun kali.
Joko mendekatiku, sementara orang-orang tersenyum puas dengan ’lakonan’ku tadi, meski mereka masih bertanya-tanya ”Kok iso yo, nyetrom”.
Seminggu kemudian, tidak seperti hari ini, Yudi sudah baik, tidak nakal lagi dan orang tuanya sangat senang dan berterima kasih sekali kepada kami.
”Hebat juga khotbahmu seminggu lalu Bang (namaku Gelombang)” Tapi lebih hebat remotemu itu, berapa volt kau buat, sampe kejang-kejang gitu”. Joko tersenyum :” Ah, secukupnya aja, tapi yang lebih hebat si Anto, bisa meyakinkan orang tuanya, untuk mengerjai anaknya, dan ngak kalah hebat mamaknya, menjahitkan alat itu kebanyakan, maksudku untuk tiga baju, eh..dibuat jadi satu, untung satu baju cukup membuat si Yudi Jera, kalo ngak, yang terpaksa buat lagi lah ”.
Aku penasaran : ”Macammana cara kau membuatnya Jok” Joko terdiam sebentar :” Ah itu sebenarnya rahasia, karena membuat itu hanya dicerita ini saja,...he...he...he...”.
Sekian dulu....sampai jumpa bro and sis
Tulah,..bandal kali, disetrom
BalasHapuskejan juga atok nih...tapi nga apa apa tok...asal jangan mati aja.....
BalasHapusTidaklah sampe mati kurapan...cuma sekitar 12 volt aja kok....sekarang dah bagus si tudi tuh
BalasHapuswuihhh 12 volt gan, kejet2 juga itu
BalasHapus