Seperti biasa, dikampungku, 1 atau 2 hari menjelang lebaran, masing-masing mengadakan perkumpulan pemotongan daging sapi, termasuk juga kami yang membuat group pemotongan sapi tersebut.
Kami membentuk panitia pemotongan daging sapi, salah satu diantaranya ada seorang yang ahli dalam pemotongan daging ini, tapi sayang suka sekali ’nyembat’ daging alias mencuri, namanya Partino ’cuging’ alias Partini Pencuri Daging
Sebagai ketua panitia aku membuat siasat untuk menghadapi satu orang ini.
Pendek cerita sapipun dipotong, masing-masing mengerjakan tugasnya, dan aku memang spesial mengawasi 1 orang ini.
Kulhat gerakannya mulai mencurigakan, ia melempar potongan daging ke semak-semak ”Passssss......kukerjai kau” dalam hatiku, sebab disemak itu sudah kusuruh seorang untuk ’mengutip’ apa yang dilemparkannya. Pencincangan daging dan tulang serta komponen lainnya seperti kulit, usus selesai, tinggal dibagikan menjadi tumpukan.
Sengaja kutugaskan dia si Partino mengepalainya dengan tanggung jawab bila kurang ia yang akan menanggungnya. ”Oke bosss...siap” jawabnya dengan bersemangat dan didalam hatinya mungkin kalaupun terjadi kesilafan, khan masih ada hasil curiannya.
Aku bekerja sama dengan seorang yang tadi menjadi ’tukang kutip’ disemak-semak untuk mengambil satu tumpukan dan menyimpannya.
Selesailah sudah penumpukan daging tadi, dan iapun dengan bersemangat mulai membagikan tumpukan-tumpukan daging tadi.
”Partogi.....1 tumpuk” ia mulai memanggil satu persatu para anggota kumpulan potong daging sapi dan seterusnya hingga pada titik akhir., ia mulai bingung...sebab kurang satu tumpuk. Ia sibuk mengecek kembali, tapi....ternyata emang kurang satu tumpuk. Akupun pura-pura bertanya :” Gimana Par....beres ?” Ia mulai gugup :”Kurang satu tumpuk..mas” Dalam hati aku tersenyum :”Lho...kok bisa...tapi kau yang numpuk tadi...cukupkan?” .Dia mulai lemes :”Waduh...nasibku mas...kayaknya aku gak dapet nih” kemudian tiba-tiba sedikit bersemangat ngomong lagi :”Gak apa-apa mas, namanya sebagai pimpinan harus bertanggung jawab...” Ia berfikr :”Kan masih ada yang disemak-semak tadi, itu lebih dari satu tumpuk...he...he...he” Iapun berjalan kesemak-semak seolah mau buang air :”Sebentar ya mas...aku kesemak dulu,,,mau pipis”. Dalam hati aku tersenyum, begitu juga pasti Hardi temanku yang mengutip lemparan daging disemak-semak tadi.
Tiba-tiba ia muncul dari semak-semak dengan wajah sedikit pucat, karena daging yang dilemparkannya tadi sudah tidak ada ” Mas....aku pulang dulu ya ?” Tanpa menunggu jawabanku ia pulang sedikit tergesa, gelisah, malu, bercampur aduk kali.
Pura-pura bengong aku bertanya :”Lo...jadi jatahmu gak ada la Par?” Partino menjawab :”Gak apa-apa lah mas....permisi..” Ia pun berlalu.
Aku tersenyum, lalu kusuruh temanku Hardi pengutip daging disemak tadi :”Hardi....nanti siang kau antarkan tumpukan daging jatah si Partino ya?” Hardi menjawab :” Baik...mas, pinter mas ya ?”Aku tersenyum mendapat pujian itu :” Alah....yang penting keluarganya makan daging jugak...iya kan ?”.
Sore hari Partino ’Cuging’ datang kerumahku dengan wajah pucat, malu dsb :” Mas, aku mau minta maaf kejadian tadi pagii....”. Sbagai sahabat aku langsung memeluknya :” Wah...maspun minta maaf ya,...sebenarnya mas mau sahabat mas itu orang baik semua..” Iapun memelukku erat-erat dan.....menangis..:”Aku malu mas.....”. Aku pun memeluknya sambil berkata :”Gak ada yang tau kok..kecuali aku sama Hardi dan yang diATAS...he...he..he,....Hardipun orang baik pasti aib ini disimpannya...jangan takut” Aku menghiburnya dan tiba-tiba Hardi muncul :” Iya Par ....aman kok, asal jangan dibuat lagi.....haram makan nya ya..” Merekapun berangkulan...lebaranpun dihadapi dengan bahagia.......tak ada dendam dan dengki....SELESAI
Kami membentuk panitia pemotongan daging sapi, salah satu diantaranya ada seorang yang ahli dalam pemotongan daging ini, tapi sayang suka sekali ’nyembat’ daging alias mencuri, namanya Partino ’cuging’ alias Partini Pencuri Daging
Sebagai ketua panitia aku membuat siasat untuk menghadapi satu orang ini.
Pendek cerita sapipun dipotong, masing-masing mengerjakan tugasnya, dan aku memang spesial mengawasi 1 orang ini.
Kulhat gerakannya mulai mencurigakan, ia melempar potongan daging ke semak-semak ”Passssss......kukerjai kau” dalam hatiku, sebab disemak itu sudah kusuruh seorang untuk ’mengutip’ apa yang dilemparkannya. Pencincangan daging dan tulang serta komponen lainnya seperti kulit, usus selesai, tinggal dibagikan menjadi tumpukan.
Sengaja kutugaskan dia si Partino mengepalainya dengan tanggung jawab bila kurang ia yang akan menanggungnya. ”Oke bosss...siap” jawabnya dengan bersemangat dan didalam hatinya mungkin kalaupun terjadi kesilafan, khan masih ada hasil curiannya.
Aku bekerja sama dengan seorang yang tadi menjadi ’tukang kutip’ disemak-semak untuk mengambil satu tumpukan dan menyimpannya.
Selesailah sudah penumpukan daging tadi, dan iapun dengan bersemangat mulai membagikan tumpukan-tumpukan daging tadi.
”Partogi.....1 tumpuk” ia mulai memanggil satu persatu para anggota kumpulan potong daging sapi dan seterusnya hingga pada titik akhir., ia mulai bingung...sebab kurang satu tumpuk. Ia sibuk mengecek kembali, tapi....ternyata emang kurang satu tumpuk. Akupun pura-pura bertanya :” Gimana Par....beres ?” Ia mulai gugup :”Kurang satu tumpuk..mas” Dalam hati aku tersenyum :”Lho...kok bisa...tapi kau yang numpuk tadi...cukupkan?” .Dia mulai lemes :”Waduh...nasibku mas...kayaknya aku gak dapet nih” kemudian tiba-tiba sedikit bersemangat ngomong lagi :”Gak apa-apa mas, namanya sebagai pimpinan harus bertanggung jawab...” Ia berfikr :”Kan masih ada yang disemak-semak tadi, itu lebih dari satu tumpuk...he...he...he” Iapun berjalan kesemak-semak seolah mau buang air :”Sebentar ya mas...aku kesemak dulu,,,mau pipis”. Dalam hati aku tersenyum, begitu juga pasti Hardi temanku yang mengutip lemparan daging disemak-semak tadi.
Tiba-tiba ia muncul dari semak-semak dengan wajah sedikit pucat, karena daging yang dilemparkannya tadi sudah tidak ada ” Mas....aku pulang dulu ya ?” Tanpa menunggu jawabanku ia pulang sedikit tergesa, gelisah, malu, bercampur aduk kali.
Pura-pura bengong aku bertanya :”Lo...jadi jatahmu gak ada la Par?” Partino menjawab :”Gak apa-apa lah mas....permisi..” Ia pun berlalu.
Aku tersenyum, lalu kusuruh temanku Hardi pengutip daging disemak tadi :”Hardi....nanti siang kau antarkan tumpukan daging jatah si Partino ya?” Hardi menjawab :” Baik...mas, pinter mas ya ?”Aku tersenyum mendapat pujian itu :” Alah....yang penting keluarganya makan daging jugak...iya kan ?”.
Sore hari Partino ’Cuging’ datang kerumahku dengan wajah pucat, malu dsb :” Mas, aku mau minta maaf kejadian tadi pagii....”. Sbagai sahabat aku langsung memeluknya :” Wah...maspun minta maaf ya,...sebenarnya mas mau sahabat mas itu orang baik semua..” Iapun memelukku erat-erat dan.....menangis..:”Aku malu mas.....”. Aku pun memeluknya sambil berkata :”Gak ada yang tau kok..kecuali aku sama Hardi dan yang diATAS...he...he..he,....Hardipun orang baik pasti aib ini disimpannya...jangan takut” Aku menghiburnya dan tiba-tiba Hardi muncul :” Iya Par ....aman kok, asal jangan dibuat lagi.....haram makan nya ya..” Merekapun berangkulan...lebaranpun dihadapi dengan bahagia.......tak ada dendam dan dengki....SELESAI
Nah tu lah...jangan serakah..adanya bagian awak yang adil...kalo awak panitia..ada dilebihlan..begitu...
BalasHapusmemang parah kali lah tu tok..paten juga pak ketuanya tu...menghajar dengan bijak...ck...ck..ck..
BalasHapusbanyak yang macam tu...daging kumpulanpun nak disikat....mmalu lah
BalasHapus