Malam, sendiri, duduk nongkrong sambil otak atik PC, lihat-lihat kalau ada yang baru.
Tiba-tiba pintu diketok dari luar, suara halus sedikit merdu menggugah konsentrasiku yang sedang melamun tinggiiiiii sekali.
Aih....anak gadis sebelah rumahku membawakan sepiring lontong.Betapa senangnya, pucuk dicinta ulampun tiba, kata pepatah orang, karena perutku tiba-tiba minta diisi lagi (mentong kata orang-orang didaerahku).. Segera akan kusalin(kupindahkan) ke mangkukku, lalu kukembalikan mangkuk tetangga tadi tanpa dicuci (karena pantang katanya kalo dicuci) sambil mengucapkan terima kasih.
Untuk melengkapi peralatan perang menghadapi ’pertempuran’ dengan lontong, aku buat kopi, kopinya instant karena kalo yang asli perutku ’gembung masuk angin’.Sudah terbayang betapa nikmatnya nanti, akupun mengambil lontong yang sudah kusalin tadi.
Betapa terkejutnya aku, air kuah lontong kering :”Waduh...mangkoknya bolong....kok bisa bolong ya?”. Aku heran mangkoknya berlubang dibawah.
Tinggallah ’lontong kering’ yang kusantap : ”Ngak enak, ya dienak-enakkan lah”. Terpaksa kusantap juga ’lontong kering’ dan untuk kuahnya kuambil kopi yang kubuat. ”Pembantaian’ dimulai, kuambil sepotong besar lalu kulahap:”Ups...seret.”. Tercekik leherku, kuambil secangkir kopi tadi, tanpa pikir panjang lagi kuhirup :”Sruuppppss...”
Kira-kira dua teguk baru terasa :” Hoooeeek....hooeekkk...puih...asin”.Apa yang sudah masuk keluar semua termasuk ’tabungan’ jam 19.00 tadi. Rupanya aku salah ambil, bukan gula, tetapi garam. ”Aduh ibuku sayang,ibuku cinta,...kenapa tempat gula sama garam kok ngak dibedain....habis dah”.
Yah..itulah ’tragedi’ lontong kering dan kopi asin
Tiba-tiba pintu diketok dari luar, suara halus sedikit merdu menggugah konsentrasiku yang sedang melamun tinggiiiiii sekali.
Aih....anak gadis sebelah rumahku membawakan sepiring lontong.Betapa senangnya, pucuk dicinta ulampun tiba, kata pepatah orang, karena perutku tiba-tiba minta diisi lagi (mentong kata orang-orang didaerahku).. Segera akan kusalin(kupindahkan) ke mangkukku, lalu kukembalikan mangkuk tetangga tadi tanpa dicuci (karena pantang katanya kalo dicuci) sambil mengucapkan terima kasih.
Untuk melengkapi peralatan perang menghadapi ’pertempuran’ dengan lontong, aku buat kopi, kopinya instant karena kalo yang asli perutku ’gembung masuk angin’.Sudah terbayang betapa nikmatnya nanti, akupun mengambil lontong yang sudah kusalin tadi.
Betapa terkejutnya aku, air kuah lontong kering :”Waduh...mangkoknya bolong....kok bisa bolong ya?”. Aku heran mangkoknya berlubang dibawah.
Tinggallah ’lontong kering’ yang kusantap : ”Ngak enak, ya dienak-enakkan lah”. Terpaksa kusantap juga ’lontong kering’ dan untuk kuahnya kuambil kopi yang kubuat. ”Pembantaian’ dimulai, kuambil sepotong besar lalu kulahap:”Ups...seret.”. Tercekik leherku, kuambil secangkir kopi tadi, tanpa pikir panjang lagi kuhirup :”Sruuppppss...”
Kira-kira dua teguk baru terasa :” Hoooeeek....hooeekkk...puih...asin”.Apa yang sudah masuk keluar semua termasuk ’tabungan’ jam 19.00 tadi. Rupanya aku salah ambil, bukan gula, tetapi garam. ”Aduh ibuku sayang,ibuku cinta,...kenapa tempat gula sama garam kok ngak dibedain....habis dah”.
Yah..itulah ’tragedi’ lontong kering dan kopi asin
Makanya, biarpun awaktu lelaki, skali-kali tengok-tengok lah dapur, tau mana garam mana gula..he..he..he
BalasHapusbiasa tok anak lajang, mau yang cepat-cepat aja...he..he.he.
BalasHapus